Kadangkala, kita melihat ada seseorang yang tampak sangat beruntung. Apapun yang dia alami selalu membawa kebaikan baginya.
Tidak jarang juga kita melihat kebalikannya: seseorang yang tampak sangat sial. Apapun yang dia alami selalu membawa akibat buruk di akhirnya.
Sedangkan kita sendiri juga sering mengalami masa-masa di saat kita menjadi si beruntung dan ada juga masa-masa saat kita menjadi si sial.
Ada perkataan yang menyatakan bahwa setiap hari nya penuh dengan berkat-Nya. Setiap saat, di mana pun kita berada, tidak mungkin kita tidak diberikan anugerah-Nya.
Jikalau demikian adanya, kenapa terkadang atau malah seringkali kita jatuh dalam kesialan? Ada masa nya saat kita berada di kondisi yang sangat menyedihkan yang menyebabkan kita mempertanyakan Tuhan. Atau mungkin pada kondisi yang lebih ekstrim, mempertanyakan keberadaan Tuhan.
Mari kita lihat cerita tentang keberuntungan dan kesialan yang terkenal ini:
Ada cerita tentang seorang kakek dan cucu nya yang tinggal di suatu pedesaan. Mereka memiliki sebuah peternakan kuda. Pada suatu malam, sang cucu tidak menutup kandang kudanya dengan benar, sehingga pada pagi harinya mereka menyadari seekor kuda telah kabur dari kandangnya. Tetangganya mendengar hal itu dan berkata: "Alangkah sialnya nasibmu, seekor kudamu telah hilang."
Sang kakek menjawab dengan tenang,"Bagaimana kau tahu kalau itu adalah nasib sial?"
Pada sore harinya, kuda yang hilang semalam itu kembali ke kandangnya dengan membawa beberapa ekor kuda liar. Tetangganya mendengar hal itu kembali berkata,"Jadi kau kini mendapatkan beberapa ekor kuda tambahan? Alangkah beruntungnya nasibmu."
Sang kakek menjawab dengan tenang,"Bagaimana kau tahu kalau itu adalah nasib beruntung?"
Keesokkan harinya, sang cucu mencoba menunggangi salah seekor kuda liarnya dan ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan patah kaki. Tetangganya kembali berkunjung dan berkata,"Jadi kuda yang kau bawa mengakibatkan ini semua? Alangkah sialnya nasibmu."
Sang kakek lagi-lagi menjawab,"Bagaimana kau tahu kalau ini adalah nasib sial?"
Tepat keesokan harinya, salah seorang utusan pemerintah datang dan mengumumkan tugas militer bagi semua anak muda yang ada di pedesaan itu. Sang cucu terlepas dari tugas itu karena cedera kakinya, sedangkan semua anak muda lainnya wajib mengikuti tugas militer itu yang berujung pada perang. Beberapa bulan kemudian, datanglah kabar bahwa seluruh prajurit yang berasal dari pedesaan itu telah tewas dalam kekalahan perang yang terjadi. Sang cucu selamat dari bencana itu karena cedera kakinya.
Dari cerita itu kita belajar bahwa apapun yang kita alami, belum tentu seperti yang tampak.
Semuanya adalah masalah sudut pandang. Satu hal yang sama dapat kita liat dari berbagai sudut pandang yang seringkali mengakibatkan kita mengsalah-artikan hal itu. Berkat ataupun kesialan adalah masalah sudut pandang. Segala hal baik selalu disediakan bagi kita setiap saatnya. Hanya masalah bagaimana kita memandangnya.
Cara kerja otak manusia pada dasarnya adalah pencari pola (Pattern-Finder). Saat sesuatu terjadi pada kita, otak kita akan segera mencari pola yang sudah ada di dalamnya dan menarik kesimpulan sesuai pengetahuannya. Jika tidak ditemukan pola serupa, maka hal baru itu akan dijadikan sebagai pola dasar untuk kejadian-kejadian serupa yang mungkin akan terjadi.
Karena hal inilah, saat sesuatu terjadi pada kita, kita cenderung menarik kesimpulan dengan cepat. Jika kita terjatuh, kita segera menyimpulkan kalau hal itu adalah kesialan. Horizon pandangan kita sangatlah sempit dan kita mengalami kesulitan untuk membayangkan hal-hal yang tidak ada (absence blindness). Siapakah yang tahu jikalau jatuhnya kita itu menyebabkan kita selamat dari bencana yang lebih besar?
Sesungguhnya, kepercayaan akan hal baik adalah wujud nyata dari kepercayaan kita kepada-Nya. Saat kita percaya kalau segala sesuatu akan indah pada akhirnya, kita percaya bahwa rencana-Nya indah. Sifat positif adalah bentuk ibadah yang sangat penting. Saat kita bersikap positif, kita membuka diri kita pada berkat yang ada di sekitar kita.
Tentu saja banyak sekali hal yang sulit dipandang sebagai berkat. Seperti misalnya saat kita kehilangan sesuatu, saat kita terluka, saat kita gagal, dan lain sebagainya. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal-hal tersebut menyakitkan dan kita sering mengutuk kejadian-kejadian itu. Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah belajar dari hal tersebut, dan berjalan maju dengan kepercayaan bahwa hal tersebut akan membawa kebaikan bagi kita di masa depan. Karena masa lalu terhubung dengan masa depan oleh masa kini. :)
