Wednesday, 27 July 2011

Perspectives - Blessing? or Curse?

Kadangkala, kita melihat ada seseorang yang tampak sangat beruntung. Apapun yang dia alami selalu membawa kebaikan baginya. 

Tidak jarang juga kita melihat kebalikannya: seseorang yang tampak sangat sial. Apapun yang dia alami selalu membawa akibat buruk di akhirnya.

Sedangkan kita sendiri juga sering mengalami masa-masa di saat kita menjadi si beruntung dan ada juga masa-masa saat kita menjadi si sial.

Ada perkataan yang menyatakan bahwa setiap hari nya penuh dengan berkat-Nya. Setiap saat, di mana pun kita berada, tidak mungkin kita tidak diberikan anugerah-Nya.

Jikalau demikian adanya, kenapa terkadang atau malah seringkali kita jatuh dalam kesialan? Ada masa nya saat kita berada di kondisi yang sangat menyedihkan yang menyebabkan kita mempertanyakan Tuhan. Atau mungkin pada kondisi yang lebih ekstrim, mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Mari kita lihat cerita tentang keberuntungan dan kesialan yang terkenal ini:

Ada cerita tentang seorang kakek dan cucu nya yang tinggal di suatu pedesaan. Mereka memiliki sebuah peternakan kuda. Pada suatu malam, sang cucu tidak menutup kandang kudanya dengan benar, sehingga pada pagi harinya mereka menyadari seekor kuda telah kabur dari kandangnya. Tetangganya mendengar hal itu dan berkata: "Alangkah sialnya nasibmu, seekor kudamu telah hilang."
Sang kakek menjawab dengan tenang,"Bagaimana kau tahu kalau itu adalah nasib sial?"
Pada sore harinya, kuda yang hilang semalam itu kembali ke kandangnya dengan membawa beberapa ekor kuda liar. Tetangganya mendengar hal itu kembali berkata,"Jadi kau kini mendapatkan beberapa ekor kuda tambahan? Alangkah beruntungnya nasibmu."
Sang kakek menjawab dengan tenang,"Bagaimana kau tahu kalau itu adalah nasib beruntung?"
Keesokkan harinya, sang cucu mencoba menunggangi salah seekor kuda liarnya dan ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan patah kaki. Tetangganya kembali berkunjung dan berkata,"Jadi kuda yang kau bawa mengakibatkan ini semua? Alangkah sialnya nasibmu."
Sang kakek lagi-lagi menjawab,"Bagaimana kau tahu kalau ini adalah nasib sial?"
Tepat keesokan harinya, salah seorang utusan pemerintah datang dan mengumumkan tugas militer bagi semua anak muda yang ada di pedesaan itu. Sang cucu terlepas dari tugas itu karena cedera kakinya, sedangkan semua anak muda lainnya wajib mengikuti tugas militer itu yang berujung pada perang. Beberapa bulan kemudian, datanglah kabar bahwa seluruh prajurit yang berasal dari pedesaan itu telah tewas dalam kekalahan perang yang terjadi. Sang cucu selamat dari bencana itu karena cedera kakinya.

Dari cerita itu kita belajar bahwa apapun yang kita alami, belum tentu seperti yang tampak.

Semuanya adalah masalah sudut pandang. Satu hal yang sama dapat kita liat dari berbagai sudut pandang yang seringkali mengakibatkan kita mengsalah-artikan hal itu. Berkat ataupun kesialan adalah masalah sudut pandang. Segala hal baik selalu disediakan bagi kita setiap saatnya. Hanya masalah bagaimana kita memandangnya.

Cara kerja otak manusia pada dasarnya adalah pencari pola (Pattern-Finder). Saat sesuatu terjadi pada kita, otak kita akan segera mencari pola yang sudah ada di dalamnya dan menarik kesimpulan sesuai pengetahuannya. Jika tidak ditemukan pola serupa, maka hal baru itu akan dijadikan sebagai pola dasar untuk kejadian-kejadian serupa yang mungkin akan terjadi.
Karena hal inilah, saat sesuatu terjadi pada kita, kita cenderung menarik kesimpulan dengan cepat. Jika kita terjatuh, kita segera menyimpulkan kalau hal itu adalah kesialan. Horizon pandangan kita sangatlah sempit dan kita mengalami kesulitan untuk membayangkan hal-hal yang tidak ada (absence blindness). Siapakah yang tahu jikalau jatuhnya kita itu menyebabkan kita selamat dari bencana yang lebih besar?

Sesungguhnya, kepercayaan akan hal baik adalah wujud nyata dari kepercayaan kita kepada-Nya. Saat kita percaya kalau segala sesuatu akan indah pada akhirnya, kita percaya bahwa rencana-Nya indah. Sifat positif adalah bentuk ibadah yang sangat penting. Saat kita bersikap positif, kita membuka diri kita pada berkat yang ada di sekitar kita.

Tentu saja banyak sekali hal yang sulit dipandang sebagai berkat. Seperti misalnya saat kita kehilangan sesuatu, saat kita terluka, saat kita gagal, dan lain sebagainya. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal-hal tersebut menyakitkan dan kita sering mengutuk kejadian-kejadian itu. Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah belajar dari hal tersebut, dan berjalan maju dengan kepercayaan bahwa hal tersebut akan membawa kebaikan bagi kita di masa depan. Karena masa lalu terhubung dengan masa depan oleh masa kini. :)

Monday, 20 June 2011

About Me...

Kurasa aku memang seorang yang cukup introvert.
Aku merasa sulit untuk membuka diri.
Entah kenapa aku merasa sulit mengekspresikan diri.

Untuk menulispun, aku sering merasa ceritaku kurang menarik.
Ini gak baik. Aku tau.
Aku berusaha membuka diri.

Aku sangat senang ketika ada yang mau bercerita kepadaku.
Aku sangat senang dibagikan kesenangan, kekecewaan, kesedihan, dsb.
Aku sangat senang ketika ditanya kembali: 

"Kalo lo apa kabarnya?"
"Lo ngapain aja?"
"Gimana skrg?"
Pertanyaan-pertanyaan yang singkat.
Kadang tak tahu harus kujawab bagaimana.
Tidak tahu bagaimana mendeskripsikan diriku sendiri.

Seringkali kujawab dengan singkat. Jawaban membosankan.
Bukan karena aku tidak mau membuka diri.
Aku masih kesulitan.

Aku membutuhkan bantuan.
Aku mau lebih terbuka, lebih percaya.
Aku mau lebih naif kepada teman-temanku.

Karena diperlukan dua kaitan jari kelingking untuk membuat janji yang hangat.
Karena diperlukan dua pegangan tangan untuk mendapatkan genggaman tangan yang hangat.
Karena diperlukan dua rangkulan untuk mendapatkan pelukan yang hangat.
Karena diperlukan dua kecupan untuk menciptakan sebuah ciuman yang hangat.

Karena dibutuhkan dua pasang mata dan telinga untuk memahami seseorang dengan dalam.
Karena dibutuhkan dua hati dan jiwa untuk membentuk suatu cinta yang tulus dan dalam.

Karena diciptakan dua manusia untuk menjadi penolong bagi satu sama lain.


Dia melihat-lihat bunga di taman
Aku memanggilnya
Kunantikan sahutannya
Kutunggu kepulangannya.

Wednesday, 8 June 2011

Chill!!

"g ng blog lg?"

Sudah lama juga sejak post terakhir gw.. gw selama ini memang merasa keadaan gw belum berubah dari sebelum-belumnya. Gw jg jujur merasa bingung harus menulis apa di sini. Well, sebenarnya itu ga benar.. ada banyak kejadian yang udah terjadi juga belakangan ini. Cuma gw enggan menuliskannya. Karena kadang mengingatnya aja bikin jadi miris. Tapi mungkin baik juga kalo gw meng-externalized semua itu dan memastikan kalau gw mendapat semua pelajaran yang gw bisa.

Sembari ngetik ini, gw lupa kapan postingan gw terakhir, tapi kynya emank udah bbrp lama sejak menceritakan kondisi gw sendiri.

Minggu2 terakhir bulan mei, gw masih tertekan soal kerjaan yang sampe skrg gw blm dapetin. Minggu2 terakhir bulan mei, gw menerima beberapa penolakan lagi. Dari perusahaan Engineering maupun Non-Engineering. Alhasil, gw bener2 berasa kepercayaan diri gw udah bener-bener jatuh. Gw jujur skrg udah bingung harus kirim resume ke mana lagi.. Tampaknya gw ga diterima di manapun.

Gw saat-saat itu menghibur diri dengan nonton film-film yang pernah menyentuh gw. Gw nonton ulang beberapa film dan memang cukup menghibur dan memberi dongkrakan semangat.
Terima kasih juga buat semua penghiburan, penyemangatan, dan bantuan pada masa-masa itu. They really mean a lot to me. : )

Akhir mei, gw terhibur dengan hasil semester terakhir gw di NUS yang berakhir baik. Gw mendapat  sebagian kepercayaan diri  gw lagi. Dan keesokan harinya gw ikut NUS JobsConnect 2011 yang diadakan di MPSH 1. Tujuan utama gw adalah memberikan resume gw ke MICRON, perusahaan Engineering lain.

Jadilah gw masuk dan langsung menuju ke arah kiri, di mana stand MICRON ditempatkan. Gw mengisi application form dan memilih QRA Engineer dan Test Capacity Analyst sebagai posisi yang gw rasa paling cocok sama gw. Pas saat itu katanya manajer dari bagian Test Capacity sedang tidak ada di tempat, jadi resume hanya akan di-forward untuk kemudian gw dikabari lagi nanti. Tapi gw mendapat interview dengan QRA Engineer Manajer. Gw merasa interview berjalan cukup baik dan gw semakin berminat dengan posisi itu. Alhasil, gw diundang untung mengikuti interview berikutnya di hari Jumat.

Gw senang dengan undangan itu dan sungguh berharap akhirnya gw bisa mendapat pekerjaan. Gw mempersiapkan diri buat interview itu sambil kembali membaca-baca materi kuliah yang berkaitan takut2 nanti ditanya pertanyaan teknis. Gw juga meringkas semua yang gw cari tau tentang perusahaan itu, termasuk tipikal prosedur yang ada di industri itu.

Gw berdoa semoga bisa gw mendapatkan ini karena gw memang sangat berminat dengan yang ini. Gw juga menceritakan pada beberapa orang dan minta bantuan doa mereka. Semua dorongan semangat itu membuat gw merasa lebih tenang.

Terkadang hal-hal tidak berjalan seperti yang kita kehendaki. Tak peduli sebagaimanapun kita telah bersiap untuk mengantisipasi segala kemungkinan adanya lubang di perjalanannya.

Tiba hari jumat, hari interviewnya. Pagi-pagi, gw membaca ulang semua ringkasan yang telah gw buat. Tak tau sudah berapa kali kubaca deskripsi pekerjaan ini, termasuk semua persyaratan yang tertera. Mencoba men-simulasi-kan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul.

Interview dijadwalkan jam 1 siang. Gw berangkat dari kamar jam 1130 karena gw blm pernah ke tempatnya. Gw selalu berangkat jauh lebih awal untuk mengantisipasi segala kemungkinan terlambat. Alhasil, gw sampe ke vivo dan masih jam 12 kurang. Akhirnya gw memutuskan buat beli Gong-Cha sembari menunggu. Gw dikasih tau katanya Gong-Cha lebih enak daripada Koi. Gw setuju dengan pendapat itu. haha...mungkin karena pearl nya, atau rasanya. Entahlah, tapi secara keseluruhan gw lebih suka.


Gw melanjutkan perjalanan dan sampai ke tempat interview 20 menit lebih awal. Jadi gw menunggu dulu sembari kembali membaca-baca semuanya itu kembali. Kemudian, 2 orang yang akan meng-interview gw datang dan gw masuk ke ruang interviewnya.


Interviewnya berjalan cukup lancar pada awalnya. Gw menjelaskan secara sungguh-sungguh kenapa gw berminat dengan posisi ini. Juga mencoba menunjukkan beberapa hal yang telah gw cari tahu sebelumnya. Interviewnya berjalan 2 arah. Gw nggak mengoceh sendiri dan mereka diam saja atau pun kebalikannya. Semuanya berjalan cukup interaktif.

Beberapa saat kemudian, mereka berpendapat kalau gw gak cukup technical untuk posisi ini. Jujur gw cukup shock saat mereka mengatakan kalau gw gak match dengan posisi ini. Mereka mengharapkan seseorang yang lebih technical dan mereka berpendapat kalau gw orangnya terlalu general dan nggak deep enough. Kendati gw mencoba meyakinkan mereka kalau gw bersedia untuk belajar technicality sampai level yang diperlukan, nampaknya semua itu sia-sia. Mereka tampaknya telah mencapai keputusan kalau gw gak cocok di posisi itu.


Tak lama setelah itu, interview berakhir. Gw menyalami mereka dan mereka mempersilakan gw keluar. Gw berjalan keluar dengan berat hati. Gw melihat jam di dinding di lobi. Interview hanya berjalan 15 menit.
Gw sungguh merasa super down. Kepercayaan diri lenyap. Rasa malu timbul ke permukaan.


Gw hampir membatalkan janji nonton dan makan bareng ko2 n dd gw. Tapi akhirnya gw memutuskan untuk tetap memenuhi janji itu. Gw sampe ke tempatnya sekitar 1 jam lebih awal dari waktu janjian dan gw duduk di Coffee Bean sambil merenung. Tidak tahu apa yang harus gw pikirkan. Sampai2 adik gw bilang:
"Tumben mao duduk di Coffee Bean."
Karena memang saat tidak biasa buat gw melakukan itu semua. Gw biasanya paling malas ke kafe seperti itu seorang diri hanya untuk menunggu. Gw juga gatau kenapa hari itu gw begitu. Galau mungkin.


Peer Pressure semakin meningkat.
Bingung gw harus pergi kemana lagi.
Tidak ada yang mau menerima gw.
Malu gw dengan kondisi ini.
Tidak tahu bagaimana harus gw jawab pertanyaan2 yang selalu muncul itu.
Bosan gw dengan jawaban sama yang selalu gw berikan.
Malu gw dengan entusiasme yang sebelumnya gw bagikan pada orang-orang.
Yang telah memberi ucapan semoga sukses untuk interview ini.
Yang ternyata gagal dalam waktu kurang dari 15 menit.
Hilang sudah harapan yang sebelumnya ada.
Hilang semangat yang sebelumnya menggebu-gebu.
Semuanya berakhir ketika satu kalimat diucapkan:"We think that you do not match with this position."

Untuk perusahaan yang Non-Engineering, pengetahuan gw dianggap kurang luas.
Untuk perusahaan yang Engineering, pengetahuan gw dianggap kurang teknis.

Sekarang gw bagai sehelai daun kering yang tertiup angin ke kanan dan ke kiri. Tidak tahu kemana gw bakal berakhir. Tidak tahu kemana angin ini akan membawa gw.


Sampai kapan gw harus begini? Apa yang bisa gw lakukan supaya kondisi ini jadi lebih baik?


Tapi tidak akan gw putus harapan.
Mungkin gw kalah dalam pertempuran ini.
Tapi dalam perang ada ratusan pertempuran.
Akan gw menangkan pertempuran lainnya.
Gw menolak untuk menyerah.
Doa akan tetap gw panjatkan.

Hanya saja.
Untuk saat ini.
Gw lelah...
Gw akan berdiri kembali. Pasti.

Sunday, 29 May 2011

Routinity Kills

Ketika kita bangun di pagi hari
Apakah kita memikirkan apa yang akan kita lakukan dan alami hari itu?
Ataukah kita mempersiapkan diri kita menghadapi rutinitas harian?

Ketika kita makan
Apakah kita menikmati makanan di hadapan kita?
Ataukah itu hanya sekedar hal yang harus kita lakukan beberapa kali sehari?

Ketika kita bertemu teman lama
Apakah kita sungguh-sungguh menanyakan kabarnya
Ataukah itu hanya sekedar basa-basi karena kita harus segera mengerjakan hal lain?

Ketika seseorang bercerita pada kita
Apakah kita sungguh-sungguh mendengarkannya?
Ataukah itu hanya sekedar omongan yang bukan menjadi urusan kita?

Ketika kita melakukan pekerjaan kita
Sadarkah kita apa yang kita lakukan?
Ataukah itu sekedar apa yang harus kita lakukan tanpa perlu tahu menahu lebih dalam?

Ketika kita berjalan
Apakah kita mengamati hal-hal di sekitar kita?
Ataukah kita berjalan terus tanpa peduli pada orang yang minta tolong sepanjang perjalanan?

Ketika kita berdoa
Apakah kita berdoa dari hati?
Ataukah hanya sekedar kata-kata hafalan yang diucapkan sebelum tidur?

Selagi kita hidup
Apakah kita mempercayai adanya tugas khusus yang harus kita lakukan?
Ataukah bagi kita hidup hanyalah sekedar rutinitas semasa kita ada di dunia?

Antipathy is not always a bad thing. It might show the truth in a bitter way. 
However, Apathy is the true form of evil. It shows no respect nor concern to its surroundings.

Cerita Pendek:
Konon, ada seseorang yang kerap membiarkan beberapa hal di hidupnya berjalan di luar kendalinya. Tidak pernah ia melakukan hal yang sama dalam beberapa hal tersebut. Tidak dibiarkannya rutinitas menjerat hal-hal itu. Seseorang pernah bertanya mengapa ia berbuat demikian.

Ia menjawab,"Jika aku membiarkan segala hal dalam hidupku menjadi rutinitas, di mana kah aku membiarkan Tuhan berkarya di hidupku?"

Sang penanya bertanya lebih jauh,"Apa maksudmu? Bukankah Tuhan bisa saja bekerja dalam rutinitas kita?"

Ia tersenyum dan menjelaskan,"Saat kita menjalani rutinitas, kita cenderung menutup hati kita pada hal-hal di luar rutinitas. Kita menganggap hal-hal itu sebagai gangguan dalam hidup kita. Kita membangun tembok penutup hati kita. Kita melakukan pekerjaan dan menjalani hidup bak mesin. Dalam kondisi demikian, bagaimanakah kita mau membiarkan Tuhan berkarya di hidup kita? Sesungguhnya kita malah akan secara sadar tak sadar menolak keberadaan-Nya di hidup kita."

Sang penanya tersentak mendengarnya. Ia berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Dalam perjalanannya tak henti-hentinya ia bergumam,"Rutinitas...Menutup hati...Menolak Tuhan..."

Words, Actions, Intentions

"Actions speak louder than words."

Suatu perkataan yang sangat umum didengar dimana-mana. Tak sedikit orang dikatakan bermulut besar ataupun pembohong karena mereka hanya berkata sesukanya tanpa melakukan apa yang mereka katakan.
Gw setuju dengan perkataan itu. Namun, gw pribadi merasa intentions yang ada di balik perbuatan adalah yang paling penting. Intentions atau movitasi dari perbuatan sangatlah penting.
- Seseorang bisa melakukan kesalahan fatal atas dasar niat baik
- Seseorang bisa melakukan perbuatan besar/penting atas dasar niat buruk

Yang manakah yang benar? Yah, masyarakat pada umumnya pasti akan lebih memuja orang yang kedua karena mereka bisa melihat perbuatan besarnya itu. Niat yang ada di dalam hati tidak bisa nampak. Tapi kita tahu apa yang akan terjadi kalau orang kedua itu diangkat jadi idola dengan niat yang tidak berubah. Ekspektasi akan jatuh, kekacauan terjadi, dan lainnya.

Saat seseorang telah memiliki niat yang kuat untuk sesuatu, hal yang tumbuh di atasnya adalah tindakan (actions). Di balik setiap tindakan pasti ada niat walaupun mungkin tindakannya dilakukan secara spontan. Tindakan pada dasarnya adalah perwujudan dari niat yang kita punya.

Kata-kata adalah upaya kita menjelaskan bagaimana tindakan kita terhubung dengan niat yang ada. Perwujudan dari oral defense. Jika kita tidak bisa menjelaskan pada orang lain bagaimana niat kita terhubung dengan tindakan yang kita lakukan, bisa dikatakan kalau niat dan tindakan kita memang tidak terhubung atau dengan kata lain, kita tidak tahu apa yang kita lakukan (niat di balik tindakannya tetap ada, tapi telah berubah seiring perwujudan tindakan).

Jika diibaratkan sebagai suatu bangunan:
- niat adalah fondasi dari bangunan itu yang sangat diperlukan.
- tindakan adalah struktur dasar dari bangunan itu dan termasuk fungsi dasarnya.
- kata-kata adalah bagian yang mempercantik banggunan itu.

Kita bertumbuh di lingkungan di mana hasil atau result (atau mungkin hal yang dibesar-besarkan sebagai result - fictitious result) dianggap sebagai segala-galanya. Yah.. mungkin ada orang yang akan bertanya proses yang kita lalui. Tapi itu akan hanya diambil sebagai informasi sampingan bagi mereka dengan tetap mengutamakan hasil prosesnya. Tidak salah juga sebenarnya. Jikalau kegagalan itu disebabkan faktor di luar kendali kita, tetap kita akan dicap sebagai orang yang menggagalkan. Konsep ini disebut sebagai Attribution Error. Ini adalah konsep psikologis yang menyebabkan kita menganggap kegagalan yang dialami seseorang adalah karena karakternya dan bukan karena faktor eksternal. Miris memang. Tapi ini benar-benar ada dan terjadi di sekitar kita. Kita pun pasti secara sadar tak sadar pernah melakukannya.


(tulisan ini gw mulai sekitar seminggu lalu dan baru dilanjutkan hari ini karena mood yang sedang tidak menentu. haha..)

Awan hujan bernaung di atas rerumputan hijau yang mengharapkan mentari
Sinar matahari menyinari gurun yang mengharapkan hujan rintik
Ia duduk di  rerumputan menanti datangnya sinar hangat
Tetesan hujan membuatnya menggigil kedinginan
Entah berapa lama lagi ia harus menunggu
Haruskah ia berpindah ke gurun?


Wednesday, 25 May 2011

Now

"Maybe the experts are right.
Maybe I'm wrong."
After applying his own method to cure shock and observing the decrease in blood pressure (before it rises back up).
- Blalock, Alfred - Something the Lord Made (2004) - 

Monday, 23 May 2011

Random

Daya simak menurun
Respon semakin melambat
Perasaan tidak menentu

Permainan komputer tidak lagi menarik
Buku hanya tampak seperti onggokan kertas
Lagu tidak terdengar merdu

Tidur tidak nyaman
Berdiam berasa gelisah
Melakukan apapun tidak enak

Mungkin ini yang namanya sedang galau...


Seekor rusa terjebak tak berdaya di tepi jurang. Ia menunggu pertolongan datang baginya.